>>
Sharing Post, Tulisan Ilmiah

Tepatkah Mahasiswa Disebut Konsumen Perguruan Tinggi?


Tepatkah Mahasiswa Disebut Konsumen Perguruan Tinggi?

Maaf…sebelumnya ada sedikit pembuka dari saya (Rahmat Gumilar).

Tulisan ini saya sadur dari seorang staf pengajar di UII Yogyakarta (H. Nursya’bani Purnama, SE, MSi ), saya terinspirasi dengan tulisan beliau yang berjudul Menyoal Siapa Konsumen Perguruan Tinggi (www.unisys.uii.ac.id).

Pembukaan

Perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis global juga turut memicu meningkatnya intensitas persaingan antar penyedia jasa pendidikan tinggi, sehingga masing-masing penyedia jasa pendidikan tinggi akan berusaha menawarkan jasa pendidikan tinggi yang berkinerja tinggi. Saat ini lembaga pendidikan atau dalam hal ini perguruan tinggi merupakan pusat keunggulan (center of excellent), dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) yang didukung oleh tenaga administratoris professional dalam rangka mengimplementasikan pelayanan pendidikan secara prima.

sPEKTASektor jasa dalam bidang penyelenggaraan Pendidikan Tinggi di Kota Bandung berada pada tingkat persaingan yang cukup ketat. Pendidikan Tinggi harus melakukan langkah antisipasi guna menghadapi persaingan yang semakin kompetitif serta bertanggung jawab untuk menggali dan meningkatkan segala aspek pelayanan yang dimiliki. Keberhasilan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh mutu pelayanan yang diberikan, dimana pelayanan yang bermutu dapat diidentifikasi melalui kepuasan pelanggan, dalam hal ini adalah mahasiswa. Cravens (Handayani, dkk., 2003) yang dikutip oleh Srinadi & Nilakusmawati (2008: 218) menyatakan bahwa “untuk mencapai tingkat kepuasan yang tinggi, diperlukan adanya pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh konsumen, dengan mengembangkan komitmen setiap orang yang ada dalam lembaga untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Nahhh itu sedikit pembukaan dari saya…Sekarang Mari kita kaji bersama-sama!

Tepatkah Mahasiswa Disebut Konsumen Perguruan Tinggi?

Secara teoritik, keberhasilan sebuah perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan tersebut menentukan siapa konsumennya dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan mereka. Demikian juga keberhasilan implementasi manajemen Perguruan Tinggi (kemudian akan disebut PT) akan ditentukan oleh akurasi PT dalam menentukan siapa konsumen yang sesungguhnya dan kemampuan PT untuk memuaskan konsumen. Nah, siapa sebenarnya konsumen PT? William Glasser yang dikutip Harmon (1993) berpendapat bahwa mahasiswa dipandang sebagai pekerja (employee) yang bersama-sama manajemen menghasilkan produk, tetapi pekerja dalam level rendah. Kegiatan penciptaan dan penggunaan jasa pendidikan pada PT terjadi bersama-sama, sehingga mahasiswa berposisi sebagai pekerja sekaligus pengguna jasa. Merujuk pandangan Glasser, mahasiswa bias diposisikan sebagai konsumen, namun dengan kadar yang rendah sampai moderat.

qwqwqwqwqwqwSedangkan Sirvanci (1996) menyodorkan perbandingan dan perbedaan antara mahasiswa dengan konsumen produk komersial, ditinjau dari beberapa hal, diantaranya: kebebasan dalam memilih produk, pertanggungjawaban terhadap harga produk, dan kebutuhan untuk membuktikan dan pemenuhan persyaratan yang ditetapkan. Konsumen produk komersial memiliki kebebasan dalam membeli produk yang dihasilkan dan ditawarkan perusahaan. Perusahaan tidak bisa menghalangi konsumen yang akan membeli produk dengan alasan apapun sepanjang konsumen tersebut memiliki daya beli. Bahkan perusahaan akan berusaha menghasilkan produk sesuai permintaan konsumen. Sebaliknya, PT tidak selalu terbuka bagi semua calon mahasiswa yang potensial dan memiliki kemampuan finansial untuk membayar biaya pendidikan. Dalam kondisi normal suatu PT akan menentukan standar tertentu. Hanya calon mahasiswa yang mencapai level kecerdasan tertentu yang akan diterima sebagai mahasiswa. Dengan kata lain, PT akan melakukan seleksi terhadap calon mahasiswa karena kursi yang tersedia terbatas.

Konsumen produk komersial secara umum membayar produk yang mereka beli dan konsumsi dengan harga penuh dengan uang sendiri. Pertanggungjawaban atas produk komersial tertuju kepada pembeli dan pemakai produk tersebut. Dalam situasi tertentu antara pembeli dengan pemakai produk bisa saja merupakan orang yang berbeda atau dengan kata lain pembelian produk bisa dilakukan/diwakili orang lain. Pada PT, uang yang dibayarkan mahasiswa adakalanya tidak sepenuhnya berasal dari mahasiswa atau orangtuanya karena kemungkinan memperoleh subsidi atau beasiswa dari pihak tertentu. Dengan demikian pertanggungjawaban atas produk perguruan tinggi tidak saja tertuju kepada mahasiswa dan orangtuanya, tetapi juga kepada pihak pemberi subsidi atau beasiswa. Dalam kondisi pasar bebas adalah hal yang tidak mungkin bagi perusahaan untuk melakukan pengujian kepada konsumen untuk menentukan apakah mereka berhak mendapatkan produk dan apakah mereka telah memperoleh keuntungan/manfaat dari produk yang dibeli dari perusahaan. Hal ini terjadi karena kontrol terhadap konsumen produk komersial sulit dilakukan perusahaan atau tidak ada klausul apapun yang mengikat konsumen. Sebaliknya pada PT, mahasiswa secara kontinyu diuji dan diberi nilai untuk menentukan kemampuan/daya serap dan asimilasi mahasiswa terhadap hasi pembelajaran. Mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah tertentu diharuskan mengulang dan tidak diperbolehkan mengambil mata kuliah lanjutan. Mahasiswa harus secara kontinyu bekerja keras agar memenuhi standar kelulusan perguruan tinggi. Dengan demikian mahasiswa hanya akan mendapatkan produk dari PT dari awal hingga lulus jika mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan melalui mekanisme kontrol yang akurat.

Merujuk pendangan Sirvanci (1996) tersebut, mahasiswa tidak bisa dipadang sebagai konsumen layaknya sebuah perusahaan. Menurut dia, konsumen PT yang sesungguhnya adalah pengguna lulusan, bukannya mahasiswa. Mahasiswa adalah produk dalam proses, lulusan PT adalah produk akhir. Pandangan Sirvanci tersebut sejalan dengan Hubbar dan Harmon.

imagesSementara Lewis dan Smith (1994) memiliki pandangan yang berbeda dengan Hubbar, Harmon, dan Sirvanci. Lewis dan Smith menyatakan bahwa ada dua konsumen PT, yaitu konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal terdiri dari mahasiswa, staf akademik dan non akademik, dan departemen/divisi yang ada pada PT, sedangkan konsumen eksternal adalah pengguna lulusan dan jasa PT, lembaga donor, alumni, dan Badan Akreditasi Nasional. Secara spesifik Lewis dan Smith menyebutkan bahwa sebagai konsumen internal, kebutuhan mahasiswa terdiri dari pengetahuan, ketrampilan, kemampuan untuk mencapai tujuan pribadi dan tujuan professional, kenyamanan dalam belajar, dan layanan staf akademik dan non akademik yang profesional. Persyaratan kebutuhan mahasiswa sebagai konsumen internal bagaimanapun sangat ditentukan oleh kebutuhan pengguna lulusan sebagai konsumen eksternal. Pengguna lulusan tentunya membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi dan mampu bekerja sama maupun bekerja mandiri secara produktif. Bagi alumni, kebutuhannya adalah kebanggaan karena pernah menuntut ilmu dan memperoleh sertifikat/ijazah dari PT tertentu, bagi Badan Akreditasi Nasional kebutuhannya menyangkut kontrol terhadap pemenuhan kriteria dan standar yang ditetapkan, sedangkan bagi lembaga donor pemberi dana/beasiswa kebutuhannya adalah terpenuhinya criteria kelayakan manajemen sebuah PT untuk memperoleh suntikan dana. Umpan balik yang diberikan oleh manajemen PT untuk menentukan disain/spesifikasi jasa pendidikan yang ditawarkan kepada mahasiswa sebagai konsumen internal.

Meskipun ada pandangan yang berbeda menyangkut apakah mahasiswa bisa dianggap sebagai konsumen PT atau tidak, kita bisa menggunakan analogi produksi/operasi perusahaan untuk digunakan dalam manajemen PT dalam hal penentuan indikator kinerja. Sekolah menengah dipandang sebagai pemasok bahan baku (calon mahasiswa), lulusan sekolah menengah yang telah diterima sebagai calon mahasiswa merupakan bahan baku untuk diolah/diproses melalui proses pembelajaran, mahasiswa merupakan produk dalam proses, proses pembelajaran merupakan tahapan proses produksi/operasi, sedangkan lulusan merupakan produk akhir sebuah PT. Nah, siapa konsumen produk PT? Pengguna lulusan dan masyarakat merupakan konsumen utama PT. Jika analogi tersebut dipakai, jumlah lulusan PT yang sudah terserap dunia kerja dan gaji pertama yang diperoleh lulusan bisa dipakai sebagai indikator utama kinerja PT. Persentase lulusan yang telah terserap dunia kerja merupakan indikator volume penjualan, persentase lulusan yang masih menganggur merupakan indikator produk yang belum/tidak laku dijual, sedangkan gaji pertama yang diperoleh lulusan PT merupakan indikator nilai atau manfaat produk. Dengan demikian manajemen PT dinilai memperoleh keberhasilan jika mengalami pertumbuhan persentase lulusan yang telah terserap dunia kerja dengan tawaran gaji yang tinggi bagi para lulusannya. Hal ini berarti bahwa PT tersebut mampu menghasilkan lulusan yang mampu memberikan nilai/manfaat yang tinggi bagi pengguna, sehingga pengguna sanggup membeli dengan harga yang tinggi. Pendekatan ini akan membantu PT dalam menyediakan nilai-nilai yang lebih baik kepada konsumen (pengguna lulusan dan masyarakat). Pengukuran persentase lulusan yang telah terserap dunia kerja dan rata-rata gaji pertama yang diperoleh dinilai lebih akurat dibanding mengukur kepuasan mahasiswa.

Sebagai penutup, siapa pun yang akan diposisikan sebagai konsumen PT, hal yang harus dilakukan oleh PT (terutama PTS) adalah membangun supply chain management (SCM) melalui kerjasama (aliansi) strategis dengan sekolah menengah sebagai pemasok calon mahasiswa, mahasiswa dan orangtua mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, dan pihak-pihak yang bertindak sebagai donor. Ingat bahwa persaingan saat ini bukan saja antar PT, namun antar SCM. Hanya PT yang kuat dalam membangun SCM yang akan menang dalam bertanding.

Sumber:

H. Nursya’bani Purnama, SE, MSi  (Staf Pengajar FE UII Yogyakarta)

Rachmat Gumilar, S.Pd., M.Pd (Staf Administrasi STIE EKUITAS Bandung/Admin Blog)

Adsense

PMB STIE Ekuitas 2013-2014

PMB STIE Ekuitas 2013-2014

About Admin Blog

Seorang Karyawan Administrasi yang ingin berbagi informasi tentang kampus STIE EKUITAS serta informasi lainnya yang (mungkin) bermanfaat bagi pembaca....ORANG KREATIF = ORANG SUKSES

Diskusi

Belum ada komentar.

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Informasi Lainnya

Masukkan Alamat email anda untuk mengikuti Blog ini dan anda akan menerima tulisan terbaru lewat email (Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.)

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya

Flag Counter

STIE EKUITAS Blog telah di Klik

  • 134,894 Kali
%d blogger menyukai ini: